Budaya menjaga mutu adalah hal yang selalu dirawat oleh (Universitas Islam Indonesia) UII demi menjaga kompetensinya di dunia pendidikan. Komitmen ini mewujud dengan didirikannya Badan Kendali Mutu dan Pengembangan Pendidikan (BKMPP) pada tanggal 1 Maret 1999. Dalam perkembangannya, BPMKPP berubah menjadi Badan Penjaminan Mutu (BPM) pada tahun 2006.

Demikian yang disampaikan oleh Kariyam, Kepala BPM UII, membuka diskusi saat menerima kunjungan studi banding STIE Pembangunan Tanjungpinang di Ruang Sidang VIP, Selasa (17/09). Sementara itu, Wiryono Raharjo, Wakil Rektor Bidang Networking & Kewirausahaan, dalam sambutannya berpesan agar diskusi berjalan dengan hangat dan terbuka.

“Mewakili UII, saya ucapkan selamat datang kepada STIE Pembangunan Tanjungpinang di Kampus Nasional pertama yang didirikan oleh anak bangsa. Saya harap pertemuan bisa berjalan dengan diskusi dan beberapa pertanyaan, kami sangat senang untuk sharing dan saling berkolaborasi.”

Studi banding diawali dengan presentasi oleh Kariyam sebagai Kepala BPM. Dalam presentasinya, Kariyam memaparkan bahwa UII memiliki standar pengendali mutu sendiri yang bahkan melampau standar nasional. UII memiliki akronim ‘Mercy of God’ sebagai acuan pengendali mutu di seluruh lingkungan UII.

Diskusi dibuka dengan pertanyaan oleh Imran Ilyas, Kaprodi Manajemen STIE Pembangunan Tanjungpinang, tentang cara membumikan standar-standar yang telah ditentukan agar dimengerti oleh seluruh pemangku tanggung jawab.

“Dengan standar yang lebih banyak dan komprehensif, mekanisme seperti apa yang dilakukan BPM untuk menurunkan standar-standar tersebut kepada yang di bawah?”

Transformasi Nilai Sistem Penjaminan Mutu UII

Kariyam menerangkan bahwa UII selalu melakukan Induksi Sistem Penjaminan Mutu bagi setiap lapisan manajemen yang ada di lingkungan UII.

“Kami melakukan transformasi nilai yang kami sebut dengan Induksi Sistem Penjaminan Mutu. Induksi tersebut dipimpin langsung oleh Rektor, dan Wakil Rektor juga memimpin langsung direktorat-direktorat yang berada di bawahnya,” jawabnya.

Wiryono menambahkan bahwa setelah diadakan Induksi Sistem Penjaminan Mutu, setiap direktorat mengadakan Forum Group Discussion (FGD) untuk menentukan wewenang dan tanggung jawab serta apa yang akan dilakukan ke depan.

“Kami percaya dengan kredo “Tulis yang akan dikerjakan, kerjakan yang sudah ditulis”. Hal itu merupakan quality assurance yang dilakukan setiap bidang. Melalui FGD, setiap bidang atau direktorat menentukan sendiri quality assurance yang ingin dicapainya,”

Mengakhiri pertemuan, Wiryono berpesan bahwa menjaga mutu adalah komitmen bersama dari pimpinan hingga ke bawah. Setiap unit, bidang, dan direktorat harus memiliki budaya kompetisi agar persaingan yang sehat tercipta. Oleh karena itu, UII selalu melakukan award kepada unit yang mendapatkan hasil terbaik.

“Untuk menciptakan nuansa yang kompetitif, UII memberikan award kepada unit, direktorat atau fakultas yang memiliki hasil terbaik. Penyerahan award diserahkan waktu milad UII,” pungkasnya. (APB/ESP)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *